Rumitnya Nafsu-Keinginan

Sedari lahir, kita menggapai dunia, tidak sabar mencicipi kehidupan dengan segenap indra kita. Sebagai bayi yang baru lahir, kita tertarik pada susu ibu yang manis dan sangat bergizi. jadi, sejak hari-hari awal, kita belajar mengasosiasikan rasa "manis" dengan cinta, pengasuhan, rasa aman, serta rasa kea nyang. Dan, ini adalah hal yang indah. nafsu-keinginan Anda. Penyangkalan tidak akan berhasil. Ber… pantang pun tidak akan berhasil. Namun, mengatakan “ya" ke. pada hasrat Anda, kebutuhan Anda yang sesungguhnya, akan berhasil. Dengan menemukan rasa lapar yang paling besar, akan benar-benar membebaskan Anda.

Kedengaran begitu sederhana dan mudah, bukan? Namun, kita semua tahu dari pengalaman kita sendiri bahwa mengenali dan menghormati kerinduan yang terdalam sangatlah menantang. Kita sudah dikondisikan dengan sangat baik untuk menyembunyikan nafsu-keinginan-khususnya jika berhubungan dengan sesuatu yang dianggap dekaden, memanjakan diri, atau berlebihan. lni berlaku pada semua aspek yang benar-benar penting dalam hidup kita, khususnya di area yang melibatkan kenikmatan. Tentu saja, saya akan menyinggung topik tersebut dalam buku ini, tetapi sekarang saya akan berkutat dengan makanan karena rasa malu, kecurigaan, atau pengasingan sehubungan dengan nafsu-keinginan paling sering terjadi ketika menyangkut makanan.

Kita sudah diajarkan, pertama-tama oleh keluarga kita, lalu oleh masyarakat, dan paling agresif oleh industri diet serta kompleks industri makanan olahan, bahwa nafsu keinginan itu buruk, tidak dapat dipercaya, dan jika dituruti, minimal kita akan gendut atau sakit, atau lebih buruk lagi, tidak dicintai dan sendirian.

Tentu saja, kita terus-menerus dijebak untuk gagal; maksud saya, siapa di antara kita yang memiliki kemampuan tak tergoyahkan untuk menolak timbunan demi timbunan makanan sampah dalam kemasan yang menghalangi akses kita menuju apel organik, yang biasanya terselip di pojok terpencil toko bahan makanan? Tentu saja, otak kita tahu bahwa apel 

Namun, sesuatu terjadi. Kita tumbuh besar, dan sesuatu berubah. Susu ibu digantikan oleh sereal manis buatan pabrik, susu cokelat, dan kue kemasan yang mengandung begitu banyak gula sehingga membayangkannya saja gigi saya sakit. Makanan yang ditawarkan kepada kita saat tumbuh besar mungkin terasa manis, tetapi dari nutrisinya berbanding terbalik dengan susu ibu. jadi, hasrat kita akan sesuatu yang manis, yang secara alami menyehatkan, dirusak oleh sesuatu yang ditawarkan kepada kita untuk menggantikannya. 

Kebutuhan kita akan rasa manis dibajak, dikubur dalam timbunan gula. Dan, ketika ini terjadi, Selera kita akan rasa manis berubah menjadi ketergantungan yang tidak menyehatkan, yang dikondisikan untuk menggiring kita ke arah yang salah, menyimpang dari jenis rasa manis yang Sesungguhnya kita butuhkan. 

]adi, lingkaran setan pun dimulai. Kita menginginkan sesuatu yang manis. Kita merespons dengan mengambil apa pun yang ada di depan kita; entah permen, minuman suplemen atau potongan terakhir kue ulang tahun di dapur kantor. Kita menyantap makanan manis dan merasa lebih baik-sesaat Tidak berapa lama, kita roboh. Dan, sekarang kita mengalami berbagai kondisi buruk serta harus menghabiskan banyak waktu juga tenaga untuk memulihkan diri. Kita mendapati diri kita menyerah pada nafsu-keinginan dengan makan sesuatu yang sangat manis tetapi tidak bergizi. Kita terus mengikuti siklus ini sampai kita bangun suatu hari dan menyadari bahWa kita gendut, lelah, serta merasa tak keruan.

Saat itulah kita panik dan memutuskan bahwa kita tidak akan tunduk lagi pada nafsu-keinginan. Saat nafsu-keinginan gula kumat lagi, kita berusaha mengabaikannya. Namun, ia tidak pergi. Nafsu-keinginan itu tetap tinggal dan membuat kita gelisah, pemarah, atau tegang. Nafsu-keinginan itu terus meraung, seperti alarm mobil yang rusak, memberi tahu bahwa kita membutuhkan sesuatu yang manis. Dengan panik, kita melemparinya dengan makanan lain, misalnya makanan asin, berlemak, atau renyah. Sekarang kita tidak hanya mengabaikan nafsu-keinginan akan makanan manis, tetapi kita juga mengaktifkan nafsu-keinginan lain: nafsu-keinginan akan makanan asin yang sama-sama miskin nutrien.
Sekarang kita berada dalam kesulitan besar dan merasa kewalahan. Biasanya, inilah saatnya kita berpaling kepada para ahli, guru diet, dan mengikuti rencana diet apa pun yang sedang populer. Seperti orang tenggelam, kita berpegangan erat-erat, yakin bahwa diet ini, yang kita ambil seperti pelampung, adalah diet yang akan menyelamatkan kita. Dan, itu mungkin benar-setidaknya dalam jangka pendek. Namun, kemungkinan besar-dan statistik menunjukkan-mereka akan kembali gemuk, dan lebih gemuk lagi, dalam jangka panjang meskipun awalnya sebagian orang menjadi lebih kurus. Dengan kata lain, diet tidak berguna. Dan, saya percaya itu karena hampir semua diet, sedikit banyak, pada hakikatnya adalah penyangkalan. Diet pada umumnya adalah tentang menghindari nafsu-keinginan, atau bahkan mengabaikannya sama sekali.

Belum lama ini saya membaca beberapa riset kuat yang menunjukkan bahwa diet mungkin tidak berhasil karena melelahkan jiwa. Dengan kata lain, saat diet pikiran kita begitu sibuk mencatat poin, kalori, dan dosa makanan atau kesuksesan yang terus bertambah sehingga ldta kehabisan kekuatan tekad dan kemampuan untuk menangkal rayuan nafsu-keinginan. Bahkan, para psikolog baru-baru ini menemukan bahwa orang yang diet sesungguhnya membangkitkan nafsu-keinginan dan lebih sering melamunkan makanan terlarang ketimbang orang yang tidak diet. Itu dia, buah simalakama diet yang jarang dibicarakan: saat Anda terlalu memikirkan apa yang Anda makan, upaya Anda untuk makan dengan lebih sadar akan terganggu.

Saya menyarankan untuk mencari jalan menuju hubungan yang lebih sehat dengan diri Anda-serta tubuh Anda-saat Anda memutuskan untuk berhenti diet dan mendengarkan nafsu-keinginan Anda. 
Penyangkalan tidak akan berhasil. Berpantang pun tidak akan berhasil. Namun, mengatakan “ya" ke pada hasrat Anda, kebutuhan Anda yang sesungguhnya, akan berhasil. Dengan menemukan rasa lapar yang paling besar, akan benar-benar membebaskan Anda. 

Kedengaran begitu sederhana dan mudah, bukan? Namun, kita semua tahu dari pengalaman kita sendiri bahwa mengenali dan menghormati kerinduan yang terdalam sangatlah menantang. Kita sudah dikondisikan dengan sangat baik untuk menyembunyikan nafsu-keinginan-khususnya jika berhubungan dengan sesuatu yang dianggap dekaden, memanjakan diri, atau berlebihan. lni berlaku pada semua aspek yang benar-benar penting dalam hidup kita, khususnya di area yang melibatkan kenikmatan. Tentu saja, saya akan menyinggung topik tersebut dalam buku ini, tetapi sekarang saya akan berkutat dengan makanan karena rasa malu, kecurigaan, atau pengasingan sehubungan dengan nafsu-keinginan paling sering terjadi ketika menyangkut makanan.

Kita sudah diajarkan, pertama-tama oleh keluarga kita, lalu oleh masyarakat, dan paling agresif oleh industri diet serta kompleks industri makanan olahan, bahwa nafsu keinginan itu buruk, tidak dapat dipercaya, dan jika dituruti, minimal kita akan gendut atau sakit, atau lebih buruk lagi, tidak dicintai dan sendirian.

Tentu saja, kita terus-menerus dijebak untuk gagal; maksud saya, siapa di antara kita yang memiliki kemampuan tak tergoyahkan untuk menolak timbunan demi timbunan makanan sampah dalam kemasan yang menghalangi akses kita menuju apel organik, yang biasanya terselip di pojok terpencil toko bahan makanan? Tentu saja, otak kita tahu bahwa apel adalah pilihan yang lebih baik, tetapi ketika berada dalam cengkeraman nafsu-keinginan, “akal sehat" kita cenderung pergi entah ke mana. Saat nafsu-keinginan menabrak kita dengan keras, GPS nutrisi internal kita langsung kacau. Lalu kita dengan mudah disesatkan oleh panggilan yang tak dapat ditolak dari makanan cepat saji, murah, dan praktis yang pada umumnya benar-benar tidak menyehatkan. 

jadi, terlepas dari perasaan gelisah yang berusaha memperingatkan bahwa kita sudah keluar jalur, kita semua menyerah dan membeli biskuit atau es krim lalu memuaskan nafsu-keinginan kita untuk sementara. Namun, apa akibatnya? Saat bergegas menjawab panggilan nafsu-keinginan, kita cenderung berlebihan dan memanjakan diri. jika kita memilih taktik sebaliknya dan memutuskan tidak menjawab sama sekali, kita berisiko memicu nafsu-keinginan baru yang lebih mendesak (dan sama tidak sehatnya). Ketika kita menjawab nafsukeinginan dengan cara yang ekstrem (berlebih atau kurang), itu suatu kesalahan.

Sebenarnya, nafsu-keinginan kita tidak salah. Biasanya kita hanya tidak tahu cara terbaik meresponsnya. Saya akan membantu Anda mempelajari bahasa nafsuakeinginan supaya Anda dapat menghormati mereka, dan setelah itu, Anda akan menda pati diri Anda meraih kondisi kesehatan serta ketenteraman prima.