Dapur Adalah Tempat Sakral

ALEXANDRA JAMIESON - Saya selalu heran ketika orang-orang menghabiskan banyak uang untuk merenovasi dapur lalu mengisinya dengan stoples, kaleng, kantong, kotak, dan kardus makanan tidak sehat se' perti yang memenuhi dapur lama mereka. Di sinilah lagi-lagi kesadaran menyelamatkan kita dari kebiasaan. Kita menghabiskan begitu banyak waktu mengkhayalkan seperti apa dapur yang kita inginkan: peralatan memasak seperti apa yang kita inginkan, jenis ubin apa yang paling mengilap, dan sebagainya. Namun, tidak banyak di antara kita yang meluangkan waktu untuk membayangkan apa yang akan kita taruh dalam oven profesional baru yang luar biasa atau lemari es canggih tahan karat yang cantik itu.

Anda bahkan tidak membutuhkan dapur dari Architectural Digest untuk menyadari bahwa di mana pun Anda menyiapkan makanan, itu adalah tempat sakral. Dan, saya tahu ini secara langsung dari dapur pertama saya di New York. Saya dan pasangan saya memiliki apartemen mungil satu kamar tidur di East Village yang waktu itu belum dibenahi. Apartemen itu berada di lantai lima dan dicapai dengan naik tangga, shower dan bathtub pada dasarnya berada di dapur, yang memiliki kompor empat tungku terkecil yang pernah saya lihat seumur hidup. Ovennya hanya cukup besar untuk menampung separuh kertas roti, seperti oven mainan. Di sebelah oven itu ada satu-satunya Wastafel. Bahkan konter nyaris tidak ada. Waktu itu saya masih Sekolah kuliner, pacar saya pembuat film yang sedang merintis karier, dan kami menyatukan otak kreatif kami serta membuat rak, kait gantung, juga konter dari selembar baja tahan karat.

Dapur Adalah Tempat Sakral

Di ruang inilah keajaiban terjadi. Saya jatuh cinta dengan memasak di dapur ini dan menciptakan serta menguji semua resep yang muncul di buku pertama saya. Saya mulai memercayai hubungan saya dengan makanan sungguhan di sini dan belajar untuk rileks serta membiarkan tubuh saya mengambil alih.
Saya bisa bekerja di ruangan mungil ini karena mustahil menumpuk barang. Ruangan itu begitu kecil sehingga saya harus membeli bahan yang akan dimasak hari itu saja atau tidak akan cukup dalam lemari es mini yang kami selipkan di sudut rumah kecil kami. Saat segala sesuatu sesederhana ini, alam semesta pilihan seolah terbentang di hadapan kita dan hal-hal indah bisa-dan sungguh-terjadi. Dapur ini adalah tempat sakral saya. Saya menghormati pekerjaan yang saya lakukan di sini dengan membeli sebilah pisau bagus, beberapa panci dan penggorengan berkualitas, serta sejumlah peralatan penting lainnya. Saya berjuang untuk membuat semua dengan bahan paling segar yang bisa saya temukan, dan saya menemukan kebahagiaan dalam memadukan cita rasa dan aroma-saya bangga dengan apa yang saya ciptakan di sini. Berada di dapur, bagi saya, adalah berada di rumah.

Detoks Dapur Anda
Dalam urusan membantu klien (dan keluarga juga teman) untuk lebih nyaman berada di dapur, saya tidak kalah tegas dari Supernanny dan tidak kalah kejam dari Simon Cowell Tidak ada yang membuat saya lebih emosional daripada lemari dapur penuh tanggal kadaluarsa! Saya terkenal hampir tidak pernah melirik bagian belakang kemasan, karena saya langsung tahu, ketika daftar bahan lebih panjang dari satu atau dua baris, apa pun isinya harus disingkirkan. Michael Pollan sependapat dengan saya dalam hal ini: ia merekomendasikan untuk menjauhi makanan yang berisi lebih dari lima bahan, maksimal. Saya harus menahan diri untuk tidak mendorong minggir klien dan membuang makanan satu rak penuh ke kantong sampah, tetapi sesungguhnya, bersih-bersih semacam ini adalah sesuatu yang harus dilakukan sendiri.

Saya ingat bekerja dengan seorang wanita, Vivian, yang sama antusiasnya dengan saya perihal bersih-bersih dapur. “Ini seperti episode Hoarders-tapi dengan makanan!" katanya dengan riang. Namun, begitu kami mulai, ia mengalami kesulitan untuk melepaskan bahan makanan tertentu, meskipun tahu bahan makanan itu tidak membantunya. Kami menabrak tembok perlawanan ini saat menemukan persediaan tepung brownies instan dalam kotak di bagian belakang sebuah rak yang dalam. Ini belum kadaluarsa, tetapi semuanya masuk dalam tumpukan kaleng dan kotak yang akan dibawa Vivian ke bank pangan setempat begitu kami selesai bersih-bersih.

Saya bertanya mengapa ia merasa berat melepaskan tepung brownies instan itu, padahal ia sudah berhenti mengonsumsi gula dan makanan panggang olahan berbulan-bulan sebelumnya. "Semua itu mengingatkan aku kepada ibuku," katanya. Lalu ia bercerita bahwa semasa kecil ibunya sering memanggang brownies instan dari merek yang sama ketika ia sakit. Ibunya meninggal beberapa tahun sebelumnya, dan ia menyadari bahwa menyimpan kotak itu-meskipun hanya untuk dilihat-membuatnya merasa dekat dengan ibunya.
“Bagaimana kalau kau mengambil foto kotak itu dengan handphone?" usul saya. Vivian menyukai ide itu-ia memotret gambar kotak itu, lalu meletakkannya bersama yang lain ke tumpukan yang akan disumbangkan. Dalam waktu singkat, kami sudah menyapu bersih lemari dapurnya. Kami bahkan sempat membersihkan lemari es, membuang semua botol dan stoples separuh penuh yang berjajar di sebelah dalam pintu. Sambil bekerja saya belajar banyak tentang Vivian karena ia menjamu saya dengan cerita-cerita yang sangat menarik dari sejarah makanannya. Ternyata, bersih-bersih dapur ini juga menjadi pengalaman ikatan batin yang menyenangkan bagi kami. Bagian yang terbaik? Sekarang setelah dapur Vivian bersih dan lega, ia bisa rileks di situ dan mulai memasak.

Menemukan Sukacita Memasak
Orang yang suka makan adalah orang-orang yang terbaik. - Julia Child

Semasa kecil, ibu saya senang menonton julia Child di TV. Bukan hanya karena ia bisa belajar satu dua hal tentang memasak, melainkan juga karena julia terlalu bersemangat untuk berada di balik konternya. Suaranya mengalun riang dan selera humornya mengejutkan, bahkan jorok. Ada koki TV lain waktu itu, seorang pria bernama Galloping Gourmet, yang berjingkrak ke sana kemari di dapurnya menumpahkan gelas anggur yang selalu penuh. Di akhir banyak episode, ia jelas mulai mabuk dan biasanya terkekeh senang.

Bayangkan acara masak tersebut dengan acara masak yang populer sekarang. Sebagian besar di antaranya adalah kompetisi; para peserta harus menyiapkan sesuatu yang luar biasa rumit dengan bahan-bahan ajaib yang sulit ditemukan, sementara koki selebriti sadis mencerca setiap upaya mereka. Maksud saya, di mana julia-yang menjatuhkan ayam di lantai. mengambilnya, dan meneruskannya seperti tidak terjadi apa-apa-ketika Anda membutuhkannya? Memasak bukan siksaan. Paling tidak seharusnya bukan. Namun, banyak yang menganggapnya seperti itu, padahal kita amat gemar makan.

Lalu ada alasan bahwa Anda terlalu sibuk dan memasak sepertinya sangat merepotkan: susah, butuh waktu, berantakan. Memang benar memasak bisa seperti itu. Namun, memasak juga aktivitas yang membangkitkan energi dan memuaskan hasrat pada tataran yang tertinggi. Saat memasak, kita melakukan semacam sihir-kita menyulap sesuatu yang lezat, bergizi, dan menyembuhkan. Dari hal-hal yang sederhana, kemungkinan dan kenikmatan terlahir-khususnya ketika menemukan bahwa Anda sesungguhnya senang menghabiskan waktu di dapur. Selain itu, memasak adalah keterampilan hidup yang paling mendasar; jika bisa memasak, Anda selalu mempunyai pekerjaan yang bermakna, selalu bisa mengekspresikan cinta dan rasa terima kasih dengan cara yang praktis, serta selalu bisa memberi makan diri Anda dan orang lain dengan cara yang lezat.


Memasak juga seni yang berkembang seiring latihan dan waktu. jika Anda memainkan alat musik atau terlibat dalam bentuk seni lain, Anda tahu maksud saya: begitu menguasai dasar-dasarnya dan kepercayaan diri mulai tumbuh, Anda masuk ke dunia improvisasi dan jazz, dan ketika ini terjadi, memasak menjadi ekspresi yang luar biasa unik dari Anda, siapa pun Anda.
Saat memasak untuk diri kita dan orang lain, kita memberikan pemujaan dan perhatian pada pekerjaan itu sehingga merasuki apa pun yang kita siapkan dengan integritas. Itu karena saat memasak-jika kita benar-benar memberikan seluruh diri kita pada tugas itu-kita hadir dan menyadari sepenuhnya setiap langkah dalam prosesnya. Berada di dapur, bekerja sendirian atau bersama orang lain, adalah bentuk pemujaan. Itu ungkapan pujian untuk bahan-bahan yang baik, alat-alat yang baik, dan orang-orang baik yang akan kita beri makan. Saat berada dalam zona ini seutuhnya, saya merasa seperti dewa, dan saya suka perasaan itu.

Saya mendapati bahwa paling mudah mencapai state of flow di dapur. Saya tidak dapat mendeskripsikannya, tetapi saat saya mencincang bahan-bahan cantik nan segar, atau mengaduk panci dengan lembut, tangan serta hati saya bertemu dengan cara yang sangat memuaskan dan hanya dapat ditandingi oleh seks bagi saya. Saya memasuki zona indah yang menguatkan ketika tenggelam dalam resep; dan ketika keluar dari struktur aman yang disediakan resep serta menciptakan sesuatu yang baru, saya merasakan sensasi keberhasilan yang sulit ditandingi. [ni menggetarkan. Ini menggerakkan. Ini dahsyat. Dan, saya ingin semua klien saya mengalami sendiri sukacita ini.

Satu hal yang paling saya suka dari memasak adalah itu musuh kesempurnaan. Mencoba untuk menjadi “sempurna" adalah target gila yang sudah lama merongrong dan mengganggu konsentrasi wanita. Memasak tidaklah sempurna, itu
seperti kehidupan: kadang gosong, kadang biasa; kadang ter
lalu pedafs; Ikadang terlalu hambar. Menyiapkan makanan juga sangat mirip dengan membangun istana pasir: Anda bekerja dan mengagumi-lalu, puf ! Lenyap.
Akan tetapi, jika Anda memasak dengan baik, ingatan akan hidangan enak, apel lezat, atau secuil cokelat nikmat tersimpan dalam sel Anda. Saat inilah makanan menjadi tubuh; makanan menjadi bagian dari ingatan sel Anda dan menginformasikan siapa Anda.