Memilih Makanan yang Mendukung Hasrat Anda

Saat Anda belanja makanan, di mana pun itu, bertanyalah dalam hati: Makanan apa yang akan membuat saya benar-benar merasa baik? Lalu uraikan pertanyaan itu lebih jauh lagi; Makanan apa yang akan membuat saya merasa energik, segar, atau waspada, tetapi rileks? Tanyakan terus ini dan pertanyaan bijaksana lain tentang apa yang ingin Anda rasakan ketika benar-benar makan makanan yang akan Anda beli, dan melewatkan makanan yang Anda tahu tidak akan membantu Anda mencapai kondisi yang diinginkan itu.

Berikut ini contoh yang sangat baik dari salah satu klien saya yangbelaj ar melakukannya. Pamela dulu hidup nyaris hanya dari makanan “diet” beku. Ia bekerja sangat keras di dua pekerjaan full-time karena hasrat terbesarnya adalah melunasi pinjaman biaya sekolah. Karena ia menghabiskan waktu hampir 70 jam seminggu di tempat kerja, hal terbaik yang dapat dilakukannya adalah berjalan gontai memasuki toko bahan makanan terdekat ketika lemari es-nya kosong. Ini biasanya larut malam, dan ia akan beringsut ke lemari makanan beku, lelah dan kelaparan, meraup makanan diet beku merek apa pun yang sedang dijual, dan melemparkannya ke kereta dorong. Lalu ia menggesekkan kartu kreditnya, memasukkan makanan ke dalam kantong, menyetir pulang sendiri, dan memasukkan seluruh makanan itu ke lemari es.

Memilih Makanan yang Mendukung Hasrat Anda

Malam demi malam-benar-benar malam, karena ia biasanya makan setelah pukul 9 malam-Pam akan memanaskan makanan beku itu dengan microwave dan melahapnya sambil berdiri di konter dapur. Lalu ia ambruk di tempat tidur. la tidak mengalami kegembiraan saat makan. Ia tidak mendapat kenikmatan dari makanan ini. Ia akan terlelap dengan merasa begah dan berat, lalu bangun dengan merasa lelah dan lapar. Ia berkata kepada saya bahwa ia merasa seperti sedang meracuni
dirinya sendiri, tetapi tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan
nya. Kami mulai tanpa mengubah jadwal belanjanya, tetapi saya
berkata ia dilarang membeli makanan beku. 

Alih-alih, ia harus membeli makanan segar. Mengatakan hal ini kepadanya mengundang reaksi spontan: “Aku sama sekali tidak mau masak pukul 9 malam.” Saya berkata kepadanya bahwa saya tidak ingin ia masak-saya hanya ingin ia makan sesuatu yang bisa memelihara tubuhnya sebaik yang diinginkannya. Saya bahkan menawarkan diri untuk menemuinya di pasar sebelum pukul 11 malam karena apa pun tidak bisa menghalangi saya tidur lebih larut dari itu. Ia menyadari betapa serius saya saat itu dan berkata saya tidak perlu menemaninya, tetapi kami sepakat saya akan berada di telepon sementara ia belanja.

Saat Pam masuk ke pasar malam itu, ia merasa berbeda; ia punya kaki tangan sekarang, seseorang yang bisa menjajaki makanan bersamanya, dan ini membantunya merasa lebih terlibat dan tidak sekadar melakukan tugas payah. Saya menyuruhnya berjalan lurus ke bagian produk segar dan memberi tahu saya apa yang dijual di bagian racikan salad. Ada begitu banyak pilihan! Pam memutuskan mengambil Tuscan Spring Blend, sekantung sayuran hijau organik, herba segar yang dicuci tiga kali dan siap dimakan. Sebelum meninggalkan bagian produk segar, saya memintanya mengambil dua pisang, dua apel, dan dua jeruk.

Selanjutnya kami menuju bagian kacang dan buah kering. Di sana, ia mengambil sekantung pecan dan satu kemasan cran
berry kering. Perhentian terakhir adalah bagian produk susu, di mana ia menemukan keju. "Selesai sudah!" kata saya, dan
Pamela pergi ke kasir. Saat berjalan ke mobil, ia berkomentar, “Wow itu jauh lebih murah, dan kantongnya jauh lebih ringan dari biasa! Tapi tahukah kau? Aku serasa membeli lebih banyak makanan.” Dan, sesungguhnya ia benar.

Saya mengakhiri percakapan telepon itu dengan mengatakan bahwa ia sekarang hanya perlu meletakkan salad di mangkuk, menaburkan kacang dan cranberry di atasnya, lalu mengaduknya dengan sedikit keju, garam, merica, serta minyak zaitun. Ia bahkan bisa memotong apel atau avokad dan menambahkan itu ke menunya. Semua ini tidak lebih lama dari waktu yang ia butuhkan untuk memanaskan makanan beku. Saya minta ia menelepon saya saat istirahat siang hari berikutnya.
"Hai, Alex. Pertama-tama, terima kasih sudah berbelanja bersamaku! Saladku sangat lezat. Aku pergi tidur dengan perasaan sangat senang dan bangun dengan perasaan segar untuk pertama kalinya dalam...."
Saya menunggu ia melanjutkan.
"Kau tahu, aku perlu menganggap ini serius."
"Menganggap serius apa?" tanya saya.
"Diriku. Kesehatanku. Apa yang kumakan."
Saya tahu saat itu bahwa Pamela sudah di jalan yang benar. la mulai membangun hubungan yang jujur dan bermakna dengan makanan. 

Saat kami terus bekerja sama, ia bisa meluangkan waktu untuk benar-benar mulai memasak, dan ia menemukan sesuatu yang diketahui hampir semua koki: memasak itu membuat rileks. Namun pertama-tama, ia harus menyiapkan dapurnya supaya dapat menikmati aktivitas memasak sebagaimana ia menikmati masakannya.